LAPORAN KULIAH LAPANGAN UPI BANDUNG PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN
EKSKRESI (PEMERIKSAAN URIN)
Di
ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah praktikum fisiologi hewan
yang di ampu oleh Siti Nurkamilah M.Pd.
Kelompok
5
3B
Mia
Ratnasari (14541053)
Siti
Solihah (14541055)
Sofi
Yulianti (14541056)
Hasni
safitri (14542001)
Muhamad
Hasanudin (14542004)
Ajeng
Nur Aropah (14542000)
Neng
Ulpah Hasanah (14542039)
LABORATORIUM PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN (STKIP) GARUT
2017
LAPORAN
KULIAH LAPANGAN UPI BANDUNG
EKSKRESI
A.
Dasar
Teori
Sistem urinaria merupakan suatu sistem
dimana terjdinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat
yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih
dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut
dlam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Sistem urinaria terdiri dari: 1) dua
ginjal (ren) yang menghasilkan urin, 2) dua ureter yang membawa urin dari
ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih), 3) satu vesika urinaria (VU), tempat
urin dikumpulkan, dan 4) satu urethra, urin dikeluarkan dari vesika urinaria.
1. Ginjal
(Ren)
Ginjal
memiliki bentuk seperti kacang dengan lekukan yang menghadap ke dalam. Di tiap
ginjal terdapat bukan yang disebut hilus yang menghubungkan arteri renal, vena
renal, dan ureter. Sistem urinaria (ginjal) terdiri dari organ-organ yang
memproduksi urine dan mengeluarkannya dari tubuh. Sistem ini merupakan salah
satu sistem utama untuk mempertahankan homeostatis (kekonstanan lingkungan
internal). Fungsi ginjal adalah a) memegang peranan penting dalam pengeluaran
zat-zat toksis atau racun, b) mempertahankan suasana keseimbangan cairan, c)
mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, dan d)
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan
amoniak.
Setiap
ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula fibrosa, terdapat
cortex renalis di bagian luar, yang berwarna cokelat gelap, dan medulla renalis
di bagian dalam yang berwarna cokelat lebih terang dibandingkan cortex. Bagian
medulla berbentuk kerucut yang disebut pyramides renalis, puncak kerucut tadi
menghadap kaliks yang terdiri dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis.
Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya
pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus.. Pelvis renalis berbentuk
corong yang menerima urin yang diproduksi ginjal. Terbagi menjadi dua atau tiga
calices renalis majores yang masing-masing akan bercabang menjadi dua atau tiga
calices renalis minores. Struktur halus ginjal terdiri dari banyak nefron yang
merupakan unit fungsional ginjal. Diperkirakan ada 1 sampai 4 juta nefron yang
merupakan unit pembentuk urine nefron dalam setiap ginjal. Nefron terdiri dari
: Glomerulus, tubulus proximal, ansa henle, tubulus distal dan tubulus
urinarius.
·
Glomerulus adalah
gulungan kapilar yang dikelilingin kapsul epitel berdinding ganda disebut
kapsul bowman. Glomelurus dan kapsul bowman bersama-sama membentuk sebuah
korpuskel ginjal.
·
Tubulus Kontortus
Proksimal, panjangnya mencapai 15 mm dan sangant berliku. Pada permukaan yang
menghadap lumen tubulus ini terdapat sel-sel epithelial kuboid yang kaya akan
mikrovilus dan memperluas area permukaan lumen.
·
Ansa Henle. Tubulus
kontortus proksimal mengarah ke tungkai desenden ansa henle yang masuk ke dalam
medulla, membentuk lengkungan jepit yang tajam (lekukan), dan membalik ke atas
membentuk tungkai asenden ansa henle.
·
Tubulus Kontostus
Distal juga sangat berliku, panjangnya sekitar 5 mm dan membentuk segmen
terakhir nefron.
·
Tubulus dan Duktus
Pengumpul. Karena setiap tubulus pengumpul bersedenden di korteks, maka tubulus
tersebut akan mengalir ke sejumlah tubulus kontortus distal. Tubulus pengumpul
membentuk duktus pengumpul besar yang lurus. Duktus pengumpul membentuk tuba
yang lebih besar yang mengalirkan urine ke dalam kaliks mayor. Dari pelvis
ginjal, urine dialirkan ke ureter yang mengarah ke kandung kemih.
2. Ureter
Ureter
adalah perpanjangan tubular berpasangan dan berotot dari pelvis ginjal yang
merentang sempai kandung kemih. Setiap ureter panjangnya antara 25 cm – 30 cm
dan berdiameter 4 mm - 6 mm. saluran ini menyempit di tiga tempat : di titik
asal ureter pada pelvis ginjal, di titik saat melewati pinggiran pelvis, dan di
titik pertemuannya dengan kandung kemih. Batu ginjal dapat tersangkut dalam
ureter di ketiga tempat ini, mengakibatkan nyeri dan disebut kolik ginjal. Dinding
ureter terdiri dari tiga lapisan jaringan : lapisan terluar adalah lapisan
fibrosa, di tengah adalah muskularis longitudinal kea rah dalam dan otot polos
sirkular kea rah luar, dan lapisan terdalam adalah epitelum mukosa yang
mengsekresi lapisan mucus pelindung.
Lapisan
ottot memiliki aktifitas peristaltic intristik. Gelombang peristaltis
mengalirkan urine dari kandung kemih keluar tubuh.
3. Vesika
Urinaria (Kandung Kemih)
Vesika
urinaria bekerja sebagai penampung urin. Organ ini berbentuk seperti buah pir
(kendi). letaknya di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Vesika
urinaria dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet. Kandung kemih
ditopang dalam rongga pelvis dalam lipatan-lipatan peritoneum dan kondensasi
fasia. Dinding kandung kemih terdiri dari empat lapisan :
a. Serosa
adalah lapisan terluar. Lapisan ini merupakan perpanjangan lapisan teritoneal
rongga abdominopelvis dan hanya ada di bagian atas pelvis.
b. Otot
detrusor adalah lapisan tengah. Lapisan ini tersusun dari berkas-berkas otot
polos yang satu sama lain saling membentuk sudut. Ini untuk memastikan bahwa
selama urinasi, kandung kemih akan berkontraksi dengan serempak ke segala arah.
c. Submukosa
adalah lapisan jaringan ikat yang terletak di bawah mukosa dan menghubungkannya
dengan muskularis.
d. Mukosa
adalah lapisan terdalam. Lapisan ini merupakan lapisan epitel, yang tersusun
dari epithelium transisional. Pada kandung kemih yang relax, mukosa membentuk
ruga (lipatan-lipatan), yang akan memipih dan mengembang saat urine
berakumulasi dalam kandung kemih.
4. Uretra
Merupakan
saluran sempit yang berpangkal pada vesika urinaria yang berfungsi menyalurkan
air kemih ke luar.Uretra mengalirkan urine dari kandung kemih ke bagian
eksterior tubuh.
Sifat
fisis air kemih, terdiri dari :
1.
Jumlah ekskresi dalam
24 jam ± 1.500 cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan dan faktor lainnya.
2.
Warna, bening kuning
muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
3.
Warna, kuning
tergantung dari kepekatan, diet obat-obatan dan sebagainya.
4.
Bau, bau khas air kemih
bila dibiarkan lama akan berbau amoniak.
5.
Berat jenis
1,015-1,020.
6.
Reaksi asam, bila
lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung dari pada diet (sayur menyebabkan
reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam).
Komposisi
air kemih, terdiri dari :
1. Air
kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
2. Zat-zat
sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak dan kreatinin.
3. Elektrolit,
natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fospat dan sulfat.
4. Pagmen
(bilirubin dan urobilin).
5. Toksin.
6. Hormon.
Kandung kemih dikendalikan oleh
saraf pelvis dan serabut saraf simpatis dari pleksus hipogastrik. Mikturisi
melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
1. Kandung
kemih terisi secara progresif hingga tegangan pada dindingnya meningkat
melampaui nilai ambang batas (Hal ini terjadi bila telah tertimbun 170-230 ml
urin), keadaan ini akan mencetuskan tahap ke 2.
2. Adanya
refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan kandung kemih.
Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal cord (tulang belakang) Sebagian
besar pengosongan di luar kendali tetapi pengontrolan dapat di pelajari
“latih”. Sistem saraf simpatis : impuls menghambat Vesika Urinaria dan gerak
spinchter interna, sehingga otot detrusor relax dan spinchter interna
konstriksi. Sistem saraf parasimpatis: impuls menyebabkan otot detrusor
berkontriksi, sebaliknya spinchter relaksasi terjadi MIKTURISI (normal: tidak
nyeri).
Tahap pembentukan urine :
1.
Filtrasi (
penyaringan )
Filtrasi
merupakan proses penyaringan darah yang berlangsung di dalam badan Malpighi
yaitu dari glomerulus ke kapsula bowman, filtrate hasil filtrasi disebut urine
primer, dalam urine primer masih terdapat zat yang berguna yaitu : air,
glukosa, dan garam mineral seperti ion natrium (Na+) dan ion kalsium
( ca 2+ )
2.
Reabsorpsi
( penyerapan kembali )
Reabsorpsi
merupakan proses penyerapan kembali zat dalam urine primer yang masih
berguna, filtrate hasil reabsorpsi disebut urine sekunder , ada dua
macam reabsorpsi yaitu reabsorpsi obligat dan fakultatif, reabsorpsi
obligat berlangsung di dalam tubulus kontortus proksimal hingga tubulus
kontortus distal.
Reabsorpsi
obligat selalu berlangsung pada setiap keadaan dengan volume urine yang sama. Reabsorpsi fakultatif berlangsung di tubulus distal dan tubulus kolektivus,
pada kondisi tertentu, reabsorpsi fakultatif dibantu oleh hormone, missal
reabsorbsi air dibantu oleh hormone antideuritika ( ADH ), dan reabsorbsi
kalsium dibantu oleh hormone paratiroid (PTH )
Hasil
reabsorpsi ini berupa urine sekunder yang komposisinya mengandung air,
garam, urea, dan pigmen empedu yang berfungsi member warna dan bau pada urine
3.
Augmentasi
( pengeluaran zat yang tidak berguna )
Augmentasi
merupakan proses pengeluaran zat yang tidak berguna atau berlebih ke dalam
urine. misalnya sekresi ion hydrogen ( H+) Dan ion kalium.
Augmentasi berlangsung di dalam tubulus distal. Filtrate hasil augmentasi
merupakan urine sesungguhnya, urine sesungguhnya masih dapat direabsorpsi
bahkan sampai berada di dalam tubulus pengumpul ( kolektivus ).
Factor – factor yang mempengaruhi produksi urine, yaitu :
1.
Hormone antideuritik ( ADH )
2.
Hormon insulin
3.
Jumlah air yang diminum
4.
Factor cuaca
Di dalam urine
terkandung bermacam – macam zat, antara lain :
1.
Zat sisa pembongkaran protein
seperti urea, asam ureat, dan amoniak
2.
Zat warna empedu yang
memberikan warna kuning pada urine
3.
Garam, terutama garam dapur
4.
Zat – zat yang berlebihan
dikomsumsi, misalnya vit C, dan obat – obatan, juga kelebihan zat yang yang
diproduksi sendiri oleh tubuh, misalnya hormone.
1.
Glukosa
dalam Urine
a. Tujuan
Untuk memeriksa ada
tidaknya glukosa dalam urine
b. Alat
dan bahan
Alat :
|
No.
|
Nama
|
Gambar
|
|
1.
|
Tabung reaksi
|
|
|
2.
|
Pipet tetes
|
|
|
3.
|
Penjepit
|
|
|
4.
|
Spirtus
|
|
|
5.
|
Gelas ukur
|
|
|
6.
|
Rak tabung reaksi
|
|
|
7
|
Gasolin
|
|
|
8.
|
Gelas kimia
|
|
Bahan :
|
No.
|
Nama
|
Gambar
|
|
1.
|
Urine
|
|
|
2.
|
Larutan
Benedict
|
|
c. Cara
kerja
- Mendidihkan
3 ml larutan benedict dalam tabung reaksi
- Menambahkan
8 tetes urine ke dalam larutan tadi dan panaskan lagi selama 1-2 menit kemudian
biarkan dingin
- Mengamati
adanya perubahan warna (endapan) yang terjadi,bila :
Biru : kadar glukosa
0,1%
Hijau : kadar glukosa 1
%
Orange : kadar glukosa
1,5%
Kuning : kadar glukosa
5%
2.
Albumin
dalam urine
a.
Tujuan
Untuk memeriksa ada tidaknya
albumin dalam urine (heller’s nitric acid test)
b.
Alat dan bahan
Alat
:
|
No.
|
Nama
|
Gambar
|
|
1.
|
Tabung reaksi
|
|
|
2.
|
Pipet tetes
|
|
|
3.
|
Gelas ukur
|
|
|
4.
|
Penjepit
|
|
|
5.
|
Rak tabung
reaksi
|
|
Bahan :
|
No.
|
Nama
|
Gambar
|
|
1.
|
Urine
|
|
|
2.
|
Asam nitrit
pekat
|
|
c. Cara
kerja
- Memasukan
2 ml asam nitrit pekat kedalam tabung reaksi
- Memiringkan
tabung reaksi tersebut kemudian tetesi urine dengan menggunakan pipet secara
perlahan-lahan sehingga urine turun melalui sepanjang tabung
- Mengamati
perubahan urine tersebut,bila urine mengandung albumin akan terlihat adanya
cincin berwarna putih yang terdapat pada daerah kontak urine dan asam nitrit.
3.
Chlorida
dalam urine
a. Tujuan
Untuk memeriksa ada
tidaknya chlorida dalam urine
b. Alat
dan bahan
Alat
:
|
No.
|
Nama
|
Gambar
|
|
1.
|
Tabung reaksi
|
|
|
2.
|
Pipet tetes
|
|
|
3.
|
Gelas ukur
|
|
|
4.
|
Rak tabung
reaksi
|
|
Bahan :
|
No.
|
Nama
|
Gambar
|
|
1.
|
Urine
|
|
|
2.
|
Larutan AgNO3 10 %
|
|
c. Cara
kerja
- Memasukan
5 ml urine kedalam tabung reaksi kemudian tetesi dengan larutan AgNO3 1-2
tetes
- Mengamati
perubahan yang terjadi,endapan putih menunjukan adanya endapan chlorida radikal
4.
Amonia
dalam urine
a. Tujuan
Untuk mengenal bau
amonia dari hasil penguraian urea dalam urine
b. Alat
dan bahan
Alat
:
|
No.
|
Nama
|
Gambar
|
|
1.
|
Tabung reaksi
|
|
|
2.
|
Pipet tetes
|
|
|
3.
|
Penjepit
|
|
|
4.
|
Spirtus
|
|
|
5.
|
Gelas ukur
|
|
|
6.
|
Rak tabung reaksi
|
|
|
7
|
Gasolin
|
|
c. Cara
kerja
- Memasukan
1 ml urine kedalam tabung reaksi
- Memanaskan
tabung reaksi dengan spirtus
- Mencium
bau dari urine tersebut
5.
Urea
dalam urine
a.
Tujuan
Untuk membuktikan
adanya urea dalam urine
b.
Alat dan bahan
Alat
:
|
No.
|
Nama
|
Gambar
|
|
1.
|
Tabung reaksi
|
|
|
2.
|
Pipet tetes
|
|
|
3.
|
Object glass
|
|
|
4.
|
Mikroskop
|
|
|
5.
|
Gelas ukur
|
|
|
6.
|
Rak tabung reaksi
|
|
|
7.
|
Spirtus
|
|
|
8.
|
Gasolin
|
|
|
9.
|
Penjepit
|
|
Bahan :
|
No.
|
Nama
|
Gambar
|
|
1.
|
Urine
|
|
|
2.
|
Asam oksalat
|
|
|
3.
|
Sodium
hipobromode
|
|
c. Cara
kerja
- Memasukan
beberapa tetes urine pada object glass,kemudian panaskan menggunakan spirtus
biarkan sebagian dari urine tersebut menguap
- Menambahkan
setetes larutan jenuh asam oksalat
- Mengamati
kristal urea oksalat yang terbentuk
- Menambahkan
beberapa tetes sodium hipobromide
- Pemuaian
nitrogen tampak akibat dikomposisi urea
B.
Hasil
pengamatan
1. Glukosa
dalam urine
|
Sampel
urine
|
Hasil
perubahan warna akhir
|
Keterangan
|
|
M.Hasanudin
|
Biru
pekat
|
Normal
(Kadar glukosa 0,1 %)
|
|
Sofyan
|
Biru
pekat
|
Normal
(Kadar glukosa 0,1 %)
|
|
Santika
|
Biru
pekat
|
Normal
(Kadar glukosa 0,1 %)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pertanyaan :
-
Buatlah siklus
perubahan glukosa dalam tubuh dan jelaskan mengapa terjadi perubahan demikian !
Jawab :
Glukosa berasal dari pemecahan amilum dan maltosa.
Glukosa masuk siklus glikolisis menghasilkan asam piruvat, kemudian masuk daur
krebs dan transpor elektron untuk menghasilkan energi berupa ATP. Perubahan ini
terjadi agar glukosa mudah diserap dan memberikan energi pada tubuh. Glukosa
berasal dari pemecahan amilum dan maltosa. Glukosa masuk siklus glikolisis
menghasilkan asam piruvat, kemudian masuk daur krebs dan transpor elektron
untuk menghasilkan energi berupa ATP. Perubahan ini terjadi agar glukosa mudah
diserap dan memberikan energi pada tubuh.
-
Bagaimana jumlah
glukosa dalam darah setelah beberapa saat anda makan ? bagaimanakah hubungannya
dengan kadar glukosa optimum darah?
Jawab :
jumlah glukosa dalam darah akan naik beberapa saat
setelah makan. saat kita makan makanan yang mengandung karbohidrat, karbohidrat
akan diubah jadi glukosa. Untuk menjaga keoptimalan kadar glukosa dalam
darah, kelebihan glukosa di dalam tubuh tersebut akan disimpan dalam
bentuk glukogen dalam hati atau otot sehingga kadar glukosa dalam darah tetap
dalam keadaan optimum.
2. Albumin
dalam urine
|
Sampel
urine
|
Ada tidaknya cincin putih
|
Keterangan
|
|
M.Hasanudin
|
Tidak ada cincin putih
|
Normal
(Tidak mengandung albumin)
|
|
Sofyan
|
Tidak ada cincin putih
|
Normal
(Tidak mengandung albumin)
|
|
Santika
|
Tidak ada cincin putih
|
Normal
(Tidak mengandung albumin)
|
Pertanyaan :
- Apakah
hubungannya antara kadar albumin yang tinggi dalam urine dengan kesehatan yang
bersangkutan ?
Jawab :
Albumin merupakan molekul yang mempunyai berat molekul
yang besar. Apabila dalam urine seseorang terdapat albumin, maka hal tersebut
menunjukan indikasi adanya kerusakan pada membrane kapsul endhotollium. Selain
itu, hal tersebut juga dapat disebabkan oleh iritasi ginjal dikarnakan masuknya
substansi seperti bakteri, eter, atau logam berat.
3. Chlorida
dalam urine
|
Sampel
urine
|
Ada tidaknya endapan putih
|
Keterangan
|
|
M.Hasanudin
|
Tidak ada endapan putih
|
Normal
(Terdapat chloride radikal)
|
|
Sofyan
|
Tidak ada endapan putih
|
Normal
(Terdapat chloride radikal)
|
|
Santika
|
Tidak ada endapan putih
|
Normal
(Terdapat chloride radikal)
|
Pertanyaan
:
-
Chlorida yang terdapat
dalam urine berasal dari apa ? jelaskan !
jawab :
Chlorida yang terdapat dalam urine berasal dari
makanan yang mengandung garam (NaCl 10 %).
-
Apakah chlorida selalu
terdapat dalam urine ? jelaskan !
Jawab :
Ya, karena hampir semua makanan yang dimakan
mengandung garam (NaCl).
-
Tuliskan reaksi kimia
yang terjadi pada percobaan diatas bila uji tersebut positif?
Jawab :
NaCl
-> Na+ + Cl-
AgNO3 +
NaCl -> AgCl
+ NaNO3
4. Amonia
dalam urine
|
Sampel
urine
|
Tercium bau atau tidak
|
Keterangan
|
|
M.Hasanudin
|
Tercium
bau
|
Normal
|
|
Sofyan
|
Tercium
bau
|
Normal
|
|
Santika
|
Tercium
bau
|
Normal
|
Pertanyaan
:
-
Berasal dari apakah
amonia dalam urine tersebut ?
Jawab :
Berasal dari hasil deaminasi asam amino yang terjadi
terutama didalam hati dan ginjal.
-
Enzim apa yang bekerja
?
Jawab :
Enzim
glutaminase mengubah glutamin menjadi asam glutamate.jelas.
5.
Urea dalam urine
|
GAMBAR
ASAM OKSALAT
|
Pertanyaan
:
-
Jelaskan bagaimana terbentuknya
urea dalam tubuh?
Jawab :
Jika sel tubuh kelebihan asam amino, asam amino tersebut akan
mengalami deaminasi. deaminasi merupakan pemindahan gugus amin dari asam amino.
Deaminasi mengakiubatkan terkumpulnya amonia yang bersifat racun. Hati dengan
bantuan enzim arginase akan mengubah arginin (salah satu asam amino esensial)
menjadi urea.
-
Bagaimanakah mekanisme
pengeluaran urea dalam, tubuh?
Jawab :
Urea hasil metabolisme protein dibawa oleh darah. Darah
difiltrasi oleh ginjal sehingga zat yang tidak dipakai lagi, salah satunya NH3
akan terpisah dari darah dan keluar bersama urine.
GAMBAR
URINE DI TABUNG REAKSI
.
C.
Pembahasan
1.
Glukosa dalam urine
Dari hasil pengamatan yang kami lakukan yaitu uji glukosa dalam urine ,
terdapat perubahan dari yang sebelumnya yaitu berwarna biru bening , setelah
ditetesi air seni berubah menjadi biru agak pekat, sedikit ada warna hijau dan
ada endapan warna putih. Hali ini berarti terdapat
indikasi kandungan glukosa 0,1 % pada urine tersebut.
Tinggi rendahnya kadar glukosa dalam
urine biasanya dipengaruhi oleh banyaknya gula atau glukosa yang
dikonsumsi. Makin banyak gula yang dikonsumsi, maka akan semakin
tinggi kadar glukosa yang ada dalam urin. Sebaliknya, jika sedikit
mengkonsumsi gula maka akan semakin sedikit juga kadar glukosa dalam urine
tersebut.
2.
Albumin dalam urine
Dari hasil pengamatan yang kami lakukan yaitu uji albumin, pada urin tidak terbentuk cincin putih pada permukaan
urin. Ini menandakan bahwa urin tidak mengandung albumin dan pemilik urin
sample tersebut sehat.
3.
Chlorida dalam urine
Dari hasil pengamatan yang kami lakukan yaitu uji Chlorida, hasilnya pada sampel terdapat endapan berupa partikel-partikel berwarna putih
yang artinya menunjukan urine tersebut mempunyai chloride radikal. Chlorida yang
terdapat dalam urineberasal dari garam-garam yang masuk ke dalam tubuh melalui
makanan misalnya NaCl yang kemudian dalam cairan tubuh akan terurai menjadi
ion-ion, oleh karena itu klorida terdapat dalam urin. Dalam tubuh NaCl
diuraikan menjadi Na+ dan Cl-. Na+ difiltrasi dalam jumlah besar tetapi ia akan
mengalami transpor secara aktif disemua bagian nefron kecuali pada bagian ansa
Henle yang tipis.
Dalam keadaan normal, 96% – 99% Na+
yang difiltrasi akan direabsorpsi. Sedangkan ion Cl- diabsorpsi secara pasif di
bagian tubulus kontortus distal dan terjadi sekresi aktif ion Cl- di bagian
lengkung henle. Klorida selalu terdapat dalam urin, pada filtrasi
molekul-molekul kecil seperti glukosa dan garam mineral direabsorpsi melalui
transport aktif. Kelebihan NaCl yang dihasilkan dari proses augmentasi
dikeluarkan lewat urine dalam bentuk ion Cl- dan Na+. Pengeluaran NaCl tergantung pada banyaknya NaCl yang masuk. Reaksi yang terjadi NaCl → Na+ + Cl- AgNO3 + NaCl → AgCl + NaNO3
4.
Ammonia dalam urine
Dari hasil pengamtan yang kami lakukan terdapat bau pesing yang sangat bau setelah urine dipanaskan,
hal ini menandakan urine yang kami teliti banyak menganduk amonia.
Organ hati dapat pula menghasilkan
enzim arginase. Enzim arginase merupakan enzim yang berperan dalam proses
penguraian asam amino. Prosesnya dinamakan deaminasi.Deaminasi adalah suatu
reaksi kimiawi pada metabolisme yang melepaskan gugus amina dari molekul
senyawa asam amino. Gugus amina yang terlepas akan terkonversi menjadi amonia
5.
Urea dalam urine
Dari hasil pengamatan yang kami
lakukan dari sampel urin terdapat asam oksalat yang menandakan bahwa urin
tersebut mengandung urea.
D. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamtan yang kami lakukan dapat disimpulkan, bahwa :
1.
Pada uji glukosa hasil
perubahan warna akhirnya biru, artinya terindikasi mengandung glukosa 0,1%.
2.
Pada uji albumin tidak
terdapat cincin putih.
3.
Pada uji chloride
terdapat endapan berupa partikel-partikel
berwarna putih yang artinya menunjukan urine tersebut mempunyai chloride
radikal.
4.
Pada uji ammonia terdapat bau
pesing yang sangat bau, hal ini menandakan urine tersebut banyak mengandung amonia.
5.
Pada uji urea terdapat
asam oksalat yang menandakan bahwa urin tersebut mengandung urea.